Tampilkan postingan dengan label 9. Proses. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 9. Proses. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Oktober 2010

5. STANDAR OPERASIONAL PROSES PRODUKSI GULA MERAH

STANDAR OPERASIONAL PROSES PRODUKSI GULA MERAH BERKWALITAS EKSPOR
 Standar Operasional Proses produksi gula merah perlu dibuat untuk pedoman kerja karyawan pabrik gula merah di PT. Haji Darma, sehingga bisa membantu secara teknis bagaimana cara memproduksi gula merah yang baik dan efisien.
1.   PERSIAPAN DAN PEMILIHAN BAHAN BAKU TEBU
 Bahan baku tebu harus dipilih dengan baik dan selektif, karena bahan baku merupakan faktor yang memegang peranan penting dan punya kontribusi 60 % terhadap produktivitas dan kualitas gula produk.
Tahap persiapan bahan baku tebu :
?    Sinder tebang dan angkut yang ditunjuk berkewajiban untuk mempersiapkan tebu giling dan jumlahnya sesuai dengan kapasitas giling yang direncanakan oleh Kepala Pabrik.
?   Tebu yang digiling sudah siap di dekat meja tebu satu hari sebelum giling dan tidak lebih dari 20 jam tebu harus sudah tergiling
?   Tebu sudah tertimbang / diketahui beratnya
?   Tebu harus sudah masak, bersih, segar dan brix batang tebu rata-  rata  ?     18 %
 
2.   PERSIAPAN PELUMASAN MESIN DAN PERALATAN
?   Mesin gilingan harus sudah dilumasi dengan minyak pelumas SAE 90 atau stand fat, terutama di roda-roda gigi, bearing, blok bantalan tempat penopang poros rol gilingan. Pelumas dan grease (stand-fat) diberikan di tempat yang telah disediakan.
?  Mesin penggerak gilingan (disel) harus sudah terisi pelumas dan cukup bahan bakar (solar). Untuk mesin diesel Janmar jenis minyak pelumas yang digunakan SAE 40 kelas CC atau CD. dan untuk mesin diesel Kubota menggunakan minyak pelumas SAE 30
Gear box reduction di pengaduk (agitator) dan coolling crystallizer  harus terisi pelumas  SAE 90 sampai permukaan (level) di kaca penglihat.
 
3.   PEMERAHAN TEBU DI GILINGAN
Mesin (motor diesel) dihidupkan selanjutnya dengan perantara roll ban dari poros mesin disel akan menggerakan roll ban yang terpasang di gilingan. Dengan demikian rol-rol mesin gilingan mulai berputar dengan putaran tertentu sesuai dengan kapasitas giling yang sudah dirancang oleh pabrik pembuatnya.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses penggilingan :
?   Setelan gilingan harus optimal dan disetel untuk daya perah nira ± 70 %
?   Tebu harus digiling secara kontinyu/terus menerus
?  Tebu dimasukan ke rol gilingan dengan jumlah 6 – 8 batang sekaligus dan diatur berjajar sesuai panjang rol gilingan
?  Jangan memasukan tebu cuma 1 – 2 batang atau sekedar menggiling karena akan menurunkan kapasitas giling dan hasil pemerahan nira tidak maksimal.
?    Ampas yang keluar dari gilingan langsung dijemur diterik matahari
 
4.   PERSIAPAN PEMBAKARAN & PEMANASAN DAPUR
Sebelum dilakukan pembakaran ampas / pemanasan di dapur semua wajan harus sudah terisi nira sampai volume ± 50 %. Adapun proses pembakaran di dapur (ruang bakar) berjalan sebagai berikut :
?  Pada awal pembakaran menggunakan bahan bakar berupa daduk tebu kering (sangkrah) yaitu dengan cara memasukan sangkrah diatas rangka bakar kemudian dinyalakan dengan api. Sesudah pembakaran berjalan lancar selanjutnya bisa menggunakan bahan bakar ampas tebu dan bahan bakar bisa diatur bergantian sesuai dengan kondisi pembakaran di  dapur.
? Pada awal giling belum tersedia ampas, maka langkah pertama bisa menggunakan bahan bakar sekam padi (berambut) untuk dibakar. Untuk membakar sekam menggunakan rangka bakar khusus  yang sudah terpasang di unit pengolahan pertama yang terletak paling timur.
?   Untuk memaksimalkan serta mengobarkan nyala api di dapur pembakaran perlu dialirkan udara (O2) dari bawah rangka bakar. Udara bisa  diperoleh dengan menggunakan alat elektrik blower.
?  Abu atau sisa pembakaran jatuh dari lubang-lubang rangka bakar dan menumpuk di lantai dapur ; perlu dikeluarkan setiap pagi hari
 
5.   PEMURNIAN NIRA
Pemurnian nira pada proses produksi gula merah menggunakan cara fisika yaitu dengan penyaringan nira dengan ukuran (mesh) tertentu. Ada empat tahap penyaringan nira, sebagai berikut :
?  Tahap pertama, Nira Perahan Pertama yang keluar dari gilingan disaring melalui saringan 50 – 100 mesh.
?   Tahap kedua, nira disaring melalui saringan ukuran 100 mesh
?   Tahap ketiga, nira disaring melalui saringan ukuran  125 mesh
?  Tahap keempat (terakhir). Nira disaring melalui saringan ukuran 150-175 mesh
?  Hasil nira sebelum diuapkan dipastikan bersih dari kotoran-kotoran kasar berupa ampas halus, tanag, pasir dll.
?  Nira dipanaskan sampai mencapai suhu sekitar 70 – 75 oC kemudian ditambahkan larutan kapur (CaOH2) sampai mencapai pH 6,9-7,0. Untuk melihat perubahan pH bisa menggunakan indikator kertas pH atau instrumen pH meter.
 
6.   PENGUAPAN NIRA
 Nira hasil penggilingan masih mengandung air sekitar 78 – 83 % atau brix nira 17 – 22 %. Air tersebut harus diuapkan sampai nira menjadi kental atau mencapai konsentrasi jenuh sampai mencapai brix 96 – 98 %. Proses penguapan berjalan sebagai berikut :
?  Nira sesudah melalui empat tahap pembersihan (penyaringan) dialirkan ke pemanas pendahuluan (pre heater), alat pemanas ini dilengkapi dengan 30 buah pipa pemanas ukuran 2 dim. Di pre heater suhu mencapai 80-95 oC, selanjutnya nira panas dialirkan melalui pipa ukuran 2 dim ke wajan nomor 1, 2, 4, 5. Sesudah proses penguapan balance (stabil) nira dari wajan nomor 4 dipindahkan ke wajan nomor 1 (pemanas api langsung). Kemudian dari wajan nomor 1 dipindahkan ke wajan nomer 2 terus ke wajan nomer 3
?  Untuk mempercepat sirkulasi nira & buih dan mempercepat penguapan maka di wajan nomor 1 – 2 – 4 – 5 dipasang silinder terbuka
?  Untuk meredam buih yang timbul pada waktu proses penguapan/pemekatan nira bisa dilakukan dengan cara memercikan minyak kelapa dengan takaran 1 sendok teh untuk satu wajan.
7.   MASAKAN DAN KRISTALISASI
Proses pemekatan nira menjadi masakan berlanjut di pan masakan terbuka atau wajan nomor 3 yang dilengkapi dengan pengaduk mekanik dengan putaran 16 rpm. Di wajan ini masih terjadi penguapan air namun jumlahnya tidak terlalu besar. Suhu di pan masakan / wajan no. 3 ini bisa mencapai 110 – 120 oC sejalan dengan meningkatnya kekentalan masakan.
Masakan tersebut terus diaduk sambil diuapkan dan  dipekatkan sampai kepekatan tertentu (masak) dengan petunjuk/pedoman sebagai berikut :
?       Permukaan masakan di wajan kelihatan meletup-letup seperti
         kawah seperti ditunjukan pada Gambar no. 6 ( Terlampir).
?    Bila masakan diangkat pakai serok kemudian dituangkan maka akan terlihat tetesan masakan jatuh menyerupai benang seperti kaca.
?     Bila masakan tadi diambil dengan serok kemudian dituangkan kedalam air akan langsung mengeras dan membeku.
?    Bila sudah masak, pengaduk di stop dan kemudian diangkat keatas dengan cara memutar roda yang terletak dibagian atas alat pengaduk. Kemudian masakan dipindahkan ke palung pendingin (coolling crystallizer), disini masakan didinginkan sambil diputar dengan kecepatan putaran pengaduk 8 rpm. Sebagai mediator pendingin masakan menggunakan air dalam mantel dan udara luar.
?       Sesudah suhu masakan turun menjadi 82 – 84 oC, masakan bisa dikeluarkan dari coolling crystallizer kemudian dibawa ke tempat pencetakan untuk dicetak sesuai bentuk dan ukuran-ukuran yang telah ditentukan.
 8.   PENCETAKAN DAN PENGEMASAN GULA
      Pencetakan Gula Merah
Bentuk fisik produksi gula merah ada dua macam yaitu gula cetak dan gula awur (granular).  Gula cetakan berbentuk silender dengan ukuran :
a).  diameter 5,5 cm dengan tebal 2,5 cm.
            b).  diameter 7,5 cm dengan tebal 2,5 cm.
 Kemungkinan juga diproduksi gula awur untuk konsumsi pabrik kecap. Direncanakan proporsi produksi gula cetak ± 75 % dan gula awur ± 25 %.

            Pengemasan gula merah  
      Hasil gula cetakan dimasukan kedalam plastik dulu, kemudian dimasukan ke karung plastik dan karung diikat/dijahit.  Berat tiap karung sekitar 25 kg. Demikian juga untuk gula awur dengan berat tiap karung 25 kg.

 9.   PENYIMPANAN GULA DI GUDANG GULA
Gula produk disimpan di dalam gudang dengan kelembaban yang rendah dan tidak boleh kena sinar matahari secara langsung. Sirkulasi udara di gudang harus baik untuk menjaga agar kondisi ruangan tidak panas (gerah). Didalam gudang perlu dipasang alat Humiditymeter & termometer sehingga sewaktu-waktu dapat dikontrol kelembaban dan suhu ruangan.
No Jenis Peralatan Utama Kegunaannya
1 Timbangan Tebu -  Untuk mengetahui berat tebu yang     digiling atau untuk menimbang tebu
     
2 Crane tebu, kapasitas10 ton sekali timbang -  Untuk mengangkat dan memindahkan tebu     dari truck ke meja tebu untuk siap digiling.  
     
3 Gilingan tebuKapasitas 2 ton/jam - Untuk memerah nira tebu dari batang tebu atau untuk memisahkan antara nira tebu dan ampas
     
4 Pre heater atau pemanas pendahuluan - Untuk menampung dan memanaskan nira bersih hasil dari gilingan, sehingga nira masuk ke wajan-wajan/pan terbuka sudah dalam keadaan panas.
     
5 WajanDibuat dari bahan besi cor Jumlah wajan 5 buah. -  Sebagai alat penampung nira dari pre heater (pemanas) sekaligus sebagai alat pemanasan untuk menguapkan air yang terkandung di dalam nira tebu sampai diperoleh nira dengan kepekatan tertentu .
     
6 Pengaduk (Agitator)Kecepatan 16 rpm - Sebagai alat untuk mengaduk nira pekat sehingga sirkulasi nira di wajan makin baik merata, tidak terjadi pemanasan setempat bisa  mempercepat proses penguapan.-  Meminimalkan kerusakan gula (sukrosa), sukrosa tidak menjadi karamel dan pecah menjadi gula invert (glukosa)
     
7 Coolling CrystallizerLengkap dng. Termometer Kecepatan pengaduk 8 rpm - Tempat kristalisasi. Sebagai alat untuk mendinginkan masakan & mempercepat pembentukan kristal masakan. Makin banyak kristal yang terbentuk makin memudahkan proses pencetakan gula. Masakan diturunkan sesudah mencapai suhu 82-84 oC
     
  Peralatan Kontrol  
1 pH meter/ Kertas pH -  Untuk mengukur/mengetahui keasaman nira sebelum diproses maupun untuk mengukur pH nira sesudah ditambah larutan kapur
     
2 Termometer - Untuk mengetahui dan mengontrol suhu  nira atau masakan di wajan


http://www.hdrfarm.com/?p=129

4. Ragam proses produksi Teh

Teh yang benar-benar baik umumnya berasal dari pucuk daun atau daun teh muda yang belum mekar. Untuk menghasilkan 1 pound (0,45 kg) teh berkualitas paling baik, diperlukan lebih dari 80.000 petikan. Produksi teh merupakan proses padat karya dan setiap tahap penting untuk mendapatkan teh berkualitas tinggi.
Untuk menghasilkan teh putih, diperlukan daun teh pilihan yang menuntut penanganan ekstra hati-hati setelah pemetikan. Cuma daun-daun paling muda, yang masih dipenuhi bulu putih pendek atau bulu halus, yang digunakan. Proses produksi teh putih ini terdiri atas dua tahap, yakni penguapan dan pengeringan. Terkadang teh putih juga difermentasi dengan sangat ringan. Tanpa adanya pelayuan, penggilingan dan fermentasi ini membuat penampilannya nyaris tak berubah. Teh yang dihasilkan pun berwarna putih keperakan.
Ketika dihidangkan, teh putih memiliki warna kuning pucat dan aroma yang lembut dan segar. Teh ini merupakan yang paling lembut di antara semua jenis teh.
Untuk memproduksi teh hijau juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang hendak dicapai dalam memproduksi teh hijau adalah mempertahankan manfaat kesehatannya, kemurnian, dan senyawa aktif daun teh segar sehingga semuanya itu dapat dirasakan ketika teh disajikan.
Setelah dipetik, daun-daun yang masih hijau dilayukan di udara panas. Begitu menjadi layu, daun-daun itu secara tradisional disangrai dengan menggunakan wok (kuali logam untuk masak masakan Tionghoa). Tujuannya, untuk mencegah oksidasi pada daun. Proses berikutnya memberi bentuk pada daun-daun tersebut, yakni terpilin, keriting, atau bundar, sekaligus menambah keawetannya. Proses ini juga membantu pengaturan pengeluaran senyawa alami dan aroma selama penyeduhan. Tahap terakhir, daun-daun itu dikeringkan dengan pengapian sehingga keharuman dan aroma alaminya tetap terjaga. Begitu pula dengan warna hijaunya.
Proses produksi untuk menghasilkan teh oolong lebih rumit lagi. Tapi tidak serumit pembuatan teh hitam. Teh ini diproses dengan menjaga agar daun tehnya tetap utuh. Karenanya dibuat dari daun-daun teh yang lebih besar dan lebih tua.
Segera setelah dipetik, daun dijemur di bawah sinar matahari untuk pelayuan. Tujuannya untuk menurunkan kadar air dan menjadikannya lebih lembut. Daun-daun itu kemudian diletakkan dalam keranjang bambu dan dikocok-kocok dengan cepat untuk merusak pinggiran daun. Pada tahap berikutnya, daun-daun itu ditebar dalam suatu tempat untuk dikeringkan. Proses pengocokan dan penebaran daun-daun tersebut diulang beberapa kali. Tepi daun yang rusak akan berubah merah akibat proses fermentasi sementara bagian tengahnya masih hijau.
Tingkat fermentasinya tergantung pada tipe oolongnya. Variasinya kira-kira dari 20% untuk oolong "hijau", hingga 60% untuk oolong formosa klasik. Begitu tingkat fermentasi yang diinginkan tercapai, proses itu mesti dihentikan segera. Ini dilakukan dengan pemanasan daun-daun itu dalam panci pada temperatur tinggi.
Sedangkan dalam proses produksi teh hitam, proses fermentasi berlangsung penuh, yang menyebabkan daun-daun teh berubah menjadi hitam dan memberi rasa khas. Setelah pemetikan, daun yang masih hijau ditebar di atas wadah pada rak untuk dilayukan selama 12 - 18 jam. Selama proses pelayuan yang lama itu, daun kehilangan banyak kadar airnya, menjadi lembut dan layu sehingga daun-daun itu mudah digiling.
Selama penggilingan, membran daun hancur, memungkinkan keluarnya sari teh dan minyak esensial yang memunculkan aroma khas. Setelah penggilingan, daun-daun itu dibawa ke sebuah ruangan yang besar, dingin, dan lembab. Di sana daun-daun itu ditaruh dalam semacam baki untuk difermentasi. Selama proses fermentasi, warna daun menjadi lebih gelap dan sarinya menjadi kurang pahit. Sebaliknya, ciri-ciri rasa teh hitam - dari harum sampai berbau seperti buah-buahan atau kacang-kacangan dan pedas - mulai muncul. Proses fermentasi itu dihentikan pada saat di mana aroma dan rasanya sudah maksimal. Ini dilakukan dengan memanaskan daun-daun itu di dalam oven. Sarinya mengering di permukaan daun dan bertahan relatif tetap sampai dilepaskan oleh air panas selama penyeduhan.
Pada tahap akhir, daun-daun dipisah-pisahkan menurut ukuran. Selama proses produksi, banyak daun teh robek atau remuk sehingga teh akhir terdiri atas daun utuh, daun robek, dan partikel-partikel yang lebih kecil.
Untuk menyeduh teh juga tak bisa sembarangan kalau ingin mendapatkan hasil seduhan yang sempurna serta nikmat dan manfaatnya bisa dirasakan. Tata cara penyeduhan itu meliputi lima tahap. Pertama, siapkanlah teko/ceret teh. Kalau tidak ada teko, cukup sediakan wadah yang tak melepaskan bau dan tahan panas. Tuangkan satu sendok kecil daun teh untuk setiap cangkir teh yang akan disajikan.
Untuk menyeduh teh hitam dan oolong, gunakan air matang yang masih dalam keadaan mendidih. Untuk teh putih dan hijau, gunakan air yang baru mulai menguap. Setelah air dituang, tunggu 3 - 5 menit untuk teh hitam, 1 - 3 menit untuk teh hijau, dan 5 - 7 menit untuk teh putih dan oolong. Masa penyeduhan ini bisa diatur menurut selera penikmatnya. Saring daun tehnya dan sajikan. Sruupppp ... hmmm ....
Selain keempat jenis teh tadi, belakangan juga muncul teh "bohongan" yang dikenal dengan nama teh herbal. Teh imitasi ini dikemas seperti layaknya teh betulan, diseduh seperti teh, dan diminum seperti teh. Tapi teh ini tak terbuat dari daun teh yang sebenarnya. Teh herbal dibuat dari bebungaan, bebijian, dedaunan, atau akar dari beragam tanaman. Teh jenis ini umumnya diminum untuk keperlukan pelangsingan tubuh.

http://chade01.multiply.com/journal/item/9/Ragam_proses_produksi_Teh

3. Proses Produksi Teh

Proses Penggilingan Teh Hitam

Pelayuan pucuk
Pucuk teh yang telah dipetik akan terjadi perubahan – perubahan senyawa polisacharida dan protein. Ini mengakibatkan perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam amino akan meningkat demikian pula dengan asam - asam organik lainnya. Semua perubahan ini dalam istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi pengaruh terhadap mutu teh.

Perubahan – perubahan kimiawi ini akan terganggu apabila pucuk terkena udara panas secara berlebihan atau pucuk mengalami kerusakan mekanis. Agar pucuk dapat digiling dengan baik pada proses penggilingan maka pucuk harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk. Pelayuan fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan waktu kurang dari 6 jam.

Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan rusak tidak akan menghasilkan mutu yang baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di dalam pucuk segar harus dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.

Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan kontak layuan ( Witehring trough ) atau dengan menggunakan rak – rak kayu yang ditumpuk. Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa panas yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah kamar pelayuan.

Penggilingan Pucuk Layu
Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam adalah :
Mememarkan dan menggiling seluruh bagian pucuk agar sebanyak mungkin sel – sel daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.

Memperkecil daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade – grade teh yang diharapkan oleh pemasaran.

Memeras cairan sel daun keluar sehingga menempel pada seluruh permukaan partikel – pertikel teh.

Mesin – mesin dan peralatan yang digunakan terdiri dari :

Mesin penggilingan Open Top Roller( OT ) yaitu sebuah selinder yang terbuka di bagian atasnya dan bergerak memutar horizontal di atas sebuah meja yang dilengkapi dengan jalur – jalur gigi dan kerucut tumpul  pada titik pusatnya, alat ini terbuat dari bahan metal yang tahan karat dimana kecepatan putarannya 42 rpm.

Mesin penggiling press Cap Roller ( PC ) yang bentuknya sama dengan OT. Hanya saja penekan atau press cap untuk memberikan tekanan pada teh yang sedang digiling.

Mesin giling Rotervance ( RV ) yaitu sebuah silinder yang berukuran garis tengah inci ( 20 cm ) yang diletakan horizontal. Di dalam selinder ini terdapat as yang dilengkapi dengan sirip – sirip spiral pengisi. Pada bagian ujung terdapat plat pengatur tekanan berbentuk silang. As berputar dengan kecepatan 40 – 46 rpm tergantung dari kebutuhan.

Mesin ayak pemecah gumpalan teh atau Ballbreaker sifter ( BBS ). yang berputar horizontal dengan rpm 140 dilengkapi dengan konveyor pengisi untuk mengatur kerataan jumlah teh yang diayak.

Proses penggilingan dapat juga dikatakan proses sortasi basah., karena pada tahap ini hasil penggilingan akan berbentuk beberapa jenis bubuk teh : bubuk – 1, bubuk- 2, bubuk-3, bubuk-4 dan yang paling kasar disebut badag. Bubuk –1 dihasilkan dari pengayakan hasil pertama dari gilingan kedua dan demikian selanjutnya.

Urutan proses penggilingan di pabrik teh Maleber disusun sebagai berikut ( salah satu dari program giling ) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1).Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk – 2 ). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk –3 dan badag )

Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan ( Kirab ) 2 x 5 menit.

Berbagai jenis program digunakan dalam praktek oleh pabrik – pabrik teh hitam di Indonesia. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah bahwa proses penggilingan ini disertai oleh proses fermentasi.

Proses fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap program giling harus di tunjang oleh kelengkapan mesin yang tepat dan cukup jumlahnya dengan layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula dengan potensi hasil kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang mantap ( konstan ) dari hari ke hari, merupakan tujuan yang utama.

Didalam tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh, sehinnga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama.

Hasil penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang kecil. Persentase bubuk 1 dan bubuk 2  harus sama dengan persentase bagian muda atau halus dari analisa pucuknya, dan kisama pula dengan persentase mutu ke 1 hasil sortasi keringnya.

Waktu lama fermentasi dihitung ketika pucuk layu masuk kedalam mesin giling petama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam mesin pengering. Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan mengalami waktu lama fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian output gilingan dan input ( kapasitas ) mesin pengeringnya . Untuk itu setiap bubuk hasil penggilingan harus ditimbang dan dicatat. program giling diatas ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan bubuk 2 masing –masing 30 % dan 40 % ( jumlah 78 % sampai 80 %)

Ruang penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan air dari teh yang sedang digiling. Khususnya bubuk basah yang sedang menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam bentuk basah dapat menghambat proses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar dan cukup karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.

Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan harus cukup tersedia.

Pengeringan
Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air didalam teh sampai +3 % kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.

Mesin pengering konvensional yang hingga sekarang masih banyak digunakan industri teh hitam, adalah Endles Chain pressure Dryer ( ECP ). Mesin ini mengeringkan teh diatas rantai – rantai baki. Mesin dengan rantai – rantai baki 2 tingkat disebut “two stage ECP” yang bertingkat 3 disebut “three stage ECP” dan yang 4 disebut “four stage ECP”. Jenis ECP yang mutakhir yang banyak digunakan adalah jenis two stage.

Udara panas dengan suhu + 98°C dihembuskan dari bawah melalui lapisan teh diatas rantai terbawah kemudian keluar melalui lapisan teh diatas rantai baki paling atas. Suhu udara yang keluar dari mesin pengering ada sekitar 49°C kurang lebih 20 menit diperlukan untuk mngeringkan teh bubuk hingga kadar airnya mencapai 3 %.

Proses pengeringan bersama dengan proses penggilingan merupakan bagian dari pengolahan teh hitam yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.

Sortasi keringan dan penyimpanan
Tujuan utama dari sortasi kering ini adalah memisahkan ukuran – ukuran teh yang terjadi akibat proses penggilingan menjadi kelompok – kelompok grade teh yang sesuai dengan permintaan pasaran teh sekarang ( Internasional ). Karena teh kering sangat peka terhadap kelembaban udara (sangat higroskopis) maka proses sortasi kering ini harus dilaksanakan sesederhana dan secepat mungkin.

Grade – grade ( jenis- jenis ) teh hitam yang dihasilkan sebagian besar oleh pabrik – pabrik di Indonesia sekarang adalah :

1. BOP = Broken Orange Pecco

2. BOPF = Broken Orange Pecco Pannings

3. PF = Pecco Panings

4. Dust

5. BP = Broken Pecco

6. BT = Broken Tea

Persentase grade pertama ini umumnya dapat mencapai 70 % hingga 85 % dari semua teh yang dihasilkan tergantung dari mutu standar petikan dan kondisi pucuknya. Besar kecilnya ukuran, sehingga sesuai dengan permintaan standar ukuran pasaran teh hitam, tergantung dari standar petikan, derajat layuan dan program gilingnya.

Mesin – mesin pengayak yang digunakan dalam sortasi kering, dibedakan satu dengan yang lainnya oleh jenis geraknya. Rotating sifter adalah mesin ayak yang gerakannya berputar horizontal. Sedangkan yang gerakannya maju mundur disebut mesin ayak Reciprocating dan yang naik turun disebut Vibrating Sifter disamping itu mesin pemisah tulang Electrostatic Stalk Separator. Winnower adalah mesin pemisah ukuran teh menurut berat jenis dengan menggunakan kipas penghisap angin.

Mesin ayak yang gerakannya maju mundur digunakan untuk memisahkan ukuran – ukuran yang bentuknya memanjang dari ukuran – ukuran teh yang bentuknya bulat.

Segera setelah selesai proses sortasi kering ini, semua teh ditimbang menurut jenis gradenya untuk kemudian dimasukan kedalam peti penyimpanan ( peti miring atau tea bin ). Dapat dibedakan bahwa sejumlah hasil timbangan grade-grade teh tersebut akan lebih besar dari pada berat teh keringnya. Besar kecilnya persentase overweight ini tergantung dari kelembaban udara ruang sortasi dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses sortasi.

Penyimpanan teh dalam peti miring akan memberikan kesempatan bagi suatu proses pematangan mutu dan mengumpulkan teh menurut jenisnya sehingga dapat di kemas dalam jumlah yang sama pada setiap kali pengepakan.

Semua rangkaian kegiatan proses produksi dari mulai pelayuan s/d sortasi masih menggunakan system ortodok (jaman dulu), namun hasilnya tidak kalah dengan system yang modern.
















   


http://www.tenggaramaleber.com/proses-produksi-teh

2. Proses Produksi

Proses Produksi Tempe
Tahapan proses produksi tempe adalah sbb :

  1. Biji kedele yang telah di pilih/di bersihkan dari kotoran, dicuci dengan air PDAM atau air sumur yang bersih selama 1 jam.
  2. Setelah bersih kedele di rebus dalam air selama 2 jam.
  3. Kemudian direndam 12 jam dalam air panas/hangat bekas air perebusan dengan maksud supaya kedele mengembang.
  4. Berikutnya di rendam dalam air dingin selama 12 jam.
  5. Setelah 24 jam seperti butir 3 dan butir 4 diatas, kedele di cuci/dikuliti (dikupas).
  6. Setelah di kupas , direbus untuk membunuh bakteri yang kemungkinan tumbuh selama perendaman.
  7. Kedele di ambil dari dandang, letakkan di atas tampah dan diratakan tipis-tipis. Biarkan dingin sampai permukaan keping kedele kering dan airnya menetes habis.
  8. Kemudian di campur dengan laru (ragi 2 %) guna mempercepat/meransang pertumbuhan jamur. Proses mencampur kedele dengan ragi memakan waktu sekitar 20 menit. Tahap peragian (fermentasi) adalah kunci keberhasilan atau tidaknya membuat tempe kedele.
  9. Bila campuran bahan fermentasi kedele sudah rata, kemudian dicetak pada loyang atau cetakan kayu dengan lapisan plastik atau daun yang akhirnya di pakai sebagai pembungkus. Sebelumnya, plastik di lobangi/ditusuk-tusuk. Maksudnya ialah untuk memberi udara supaya jamur yang tumbuh berwarna putih. Proses percetakan/pembungkus memakan waktu 3 jam.
  10. Campuran kedele yang telah dicetak dan diratakan permukaannya di hamparkan di atas rak dan kemudian ditutup selama 24 jam.
  11. Setelah 24 jam tutup di buka dan didinginkan/diangin-anginkan selama 24 jam. Setelah ini campuran kedele telah menjadi tempe siap jual.
  12. Untuk tahan lama, tempe yang misalnya akan menjadi produk ekspor dapat di bekukan dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin. Proses membekukan tempu untuk ekspor sbb : mula-mula tempe di iris-iris setebal 2 – 3 cm dan di blanching direndam dalam air mendidih selama lima menit untuk mengaktifkan kapang dan enzim. Kemudian tempe di bungkus dengan plastik selofan dan di bekukan pada suhu 40 derajat Celcius sekitar 6 jam. Setelah beku disimpan pada suhu beku sekitar 20 derajat celcius selama 100 hari tanpa mengalami perubahan sifat penampak warna, bau dan rasa.

Proses produksi Tahu
Tahap dalam proses produksi tahu adalah sbb :
  1. Kedele dipilih dengan penampi untuk memilih biji kedele besar. Kemudian di cuci serta direndam dalam air besar selama 6 jam.
  2. Setelah di rendam di cuci kembali sekitar 1/2 jam
  3. Setelah di cuci bersih kedelai di bagi-bagi diletakkan dalam ebleg terbuat dari bambu atau plastik.
  4. Selanjutnya kedele giling sampai halus, dan butir kedele mengalir dengan sendirinya kedalam tong penampung.
  5. Selesai digiling langsung direbus selama 15 – 20 menit mempergunakan wajar dengan ukuran yang besar-besar . Sebaiknya jarak waktu antara selesai digiling dan dimasak jangan lebih dari 5 – 10 menit, supaya kualitas tahu menjadi baik.
  6. Selesai di masak bubur kedele diangkat dari wajan ke bak/tong untuk disaring menggunakan kain belacu atau mori kasar yang telah di letakkan pada sangkar bambu. Agar bubur dapat di saring sekuat-kuatnya diletakkan sebuah papan kayu pada kain itu lalu ada satu orang naik di atasnya dan menggoyang-goyang, supaya terperas semua air yang masih ada pada bubur kedele. Limbah dari penyaringan berupa ampas tahu. Kalau perlu ampas tahu diperas lagi dengan menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Pekerjaan penyaringan di lakukan berkali-kali hingga bubur kedele habis.
  7. Air sampingan yang tertampung dalam tong warna kuning atau putih adalah bahan yang akan menjadi tahu. Air saringan di campur dengan asam cuka untuk menggumpalkan. Sebagai tambahan asam cuka dapat juga air kelapa atau cairan whey (air sari tahu bila tahu telah menggumpal) yang telah di eramkan maupun bubuk batu tahu (sulfat kapur)
  8. Gumpalan atau jonjot putih yang mulai mengendap itulah yang nanti sesudah di cetak menjadi tahu. Air asam yang masih ada dipisahkan dari jonjot-jonjot tahu dan disimpan, sebab air asam cuka masih dapat digunakan lagi. Endapan tahu dituangkan dalam kotak ukuran misalnya 50 x 60 cm 2 dan sebagai alasnya di hamparkan kain belacu. Adonan tahu kotak dikempa, sehingga air yang masih tercampur dalam adonan tahu itu terperas habis. Pengempaan dilakukan sekitar 1 menit, adonan tahu terbentuk kotak, yang sudah padat, di potong-potong, misalnya dengan ukuran 6 x 4 cm 2, sebelulm menjadi tahu siap di jual.
     
     http://bankresep.wordpress.com/2007/03/07/aspek-teknis-produksi-tempe-tahu/

1.Tim BPK Lakukan Cross Check Bisnis Proses Jasa Raharja di Cabang DKI Jakarta

3 Agustus 2010, Humas JR DKI Jakarta.


Jakarta – Kepala Cabang DKI Jakarta H. Mustimar Karimi, menyambut kedatangan Tim Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang didampingi Kepala Satuan Pengawasan Intern (SPI), Tery Agus Prihadi, Auditor Utama, Parlindungan dan Kepala Urusan Verifikasi, Patoni. Tim Audit BPK dikomandani Agung TB, yang melakukan test of control untuk mengetahui standar operasional dan pelayanan santunan Jasa Raharja di Cabang DKI Jakarta.

Kepala SPI Terry Agus Prihadi, dalam sambutannya menyampaikan, Tim Audit BPK akan bertugas mulai tanggal 02 – 10 Agustus 2010, terdiri dari 7 Anggota dan sebagai Ketua Tim Agung TB. Dalam pelaksanaannya nanti kepada teman-teman agar dijalin komunikasi yang baik, berikan informasi sesuai yang diperlukan dan apa saja yang dilakukan saat ini. Dalam jadwal ada juga kunjungan kepada mitra terkait, tolong ini dikomunikasikan dengan mitra, agar tidak ada hambatan dalam pelaksanaanya.

Kepala Cabang DKI Jakarta H. Mustimar Karimi, menyambut gembira dan senang atas kedatangan Tim Audit BPK, dan memberikan gambaran sebagai potret / kondisi Jasa Raharja Cabang DKI Jakarta secara menyeluruh yang diselinggi guyonan segar ”Cerdas”, ala Gus Mus, nama panggilan Mustimar Karimi, namun tidak mengurangi makna yang sesungguhnya yakni memberikan gambaran kinerja Jasa Raharja Cabang DKI Jakarta. ”Kami akan berupaya yang terbaik memberikan dukungan dalam kelancaran  tugas pemeriksaan”. ujarnya.

Ketua Tim Audit BPK Agung TB, menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan ini sebagai pemeriksaan pendahuluan Kinerja pengendalian intern PT Jasa Raharja (Persero) Tahun Buku 2009 dan 2010 sd. semester I, khususnya pelayanan santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan dan penumpang umum sesuai ketentuan UU.33 dan 34 Tahun 1964. Lebih lanjut Agung TB, pada kesempatan ini Tim merencanakan kunjungan ke Kantor Pelayanan Samsat, Operator, Rumah Sakit, maupun mitra terkait lainnya, untuk mengetahui alur proses operasional dari PT Jasa Raharja (Persero) dan system Dasi-JR On Line yang telah dibangun apakah telah berjalan sesuai SPO pada perusahaan.

http://www.jasaraharja.co.id/read.cfm?id=11548